• Info Lowongan Kerja - UPDATE

    Masjid saka tunggal (1288)

    Pintu Gerbang Masjid saka tunggal (1288)
    KWARTETWO.COM:  Masjid Saka Tunggal di Desa Cikakak Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas sudah banyak dikenal orang karena keunikannya. Arsitektur masjid yang sudah berumur ratusan tahun ini tak kalah hebat dengan bangunan jaman sekarang. Dengan hanya mengandalkan pada kekuatan satu tiang utama sebagai penopang atapnya masjid yang dibuat oleh Kiai Tolih, asal Banyuwangi ini mampu bertahan ratusan tahun. Dan sejak tahun 1980 masjid ini ditetapkan menjadi benda cagar budaya.
        Salah satu tampilan asli masjid ini yang belum hilang adalah saka tunggal di tengah-tengah bangunan masjid. Saka tunggal tersebut dibuat dari bagian dalam (galih) kayu jati berukir motif bunga warna-warni. Di bagian pangkal berdiameter sekitar 35 sentimeter. Saka ini berdiri hingga di atas wuwungan yang berbentuk limas, seperti wuwungan pada Masjid Agung Demak.
        Salah satu keunikan Saka Tunggal adalah keberadaan empat helai sayap dari kayu di tengah saka. Empat sayap yang menempel di saka tersebut kemungkinan besar melambangkan papat kiblat lima pancer, atau empat mata angin dan satu pusat. Papat kiblat lima pancer berarti manusia sebagai pancer dikelilingi empat mata angin yang melambangkan api, angin, air, dan bumi.
        Saka tunggal itu perlambang bahwa orang hidup ini seperti alif, harus lurus. Jangan bengkok, jangan nakal, jangan berbohong. Kalau bengkok, maka bukan lagi manusia.
        Empat mata angin itu berarti bahwa hidup manusia harus seimbang. Jangan terlalu banyak air bila tak ingin tenggelam, jangan banyak angin bila tak mau masuk angin, jangan terlalu bermain api bila tak mau terbakar, dan jangan terlalu memuja bumi bila tak ingin jatuh.
        Hidup itu harus seimbang. Papat kiblat lima pancer ini sama dengan empat nafsu yang ada dalam manusia. Empat nafsu yang dalam terminologi Islam-Jawa sering dirinci dengan istilah aluamah,
    mutmainah, sopiah, dan amarah. Empat nafsu yang selalu bertarung dan memengaruhi watak manusia.
        Keaslian lain yang masih terpelihara di masjid yang sejak tahun 1980 ditetapkan sebagai cagar budaya Banyumas tersebut adalah ornamen di ruang utama, khususnya di mimbar khotbah dan imam. Begitu juga tongkat khotbah yang berada satu paket dengan mimbar tersebut.
        “Akan tetapi, tongkat yang ada di masjid saat ini hanya replikanya. Tongkat aslinya saya simpan di tempat yang aman, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, karena tongkat itu memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi,” lanjutnya.
        Ada dua ukiran di kayu yang bergambar nyala sinar matahari yang mirip lempeng mandala. Gambar seperti ini banyak ditemukan pada bangunan-bangunan kuno era Singasari dan Majapahit.
        Kekhasan masjid ini yang masih ada adalah atap dari ijuk kelapa berwarna hitam. “Sebenarnya untuk atap sempat terjadi beberapa kali pergantian bahan, mulai dari seng hingga asbes. Akan tetapi saat era
    kepemimpinan Bupati Djoko Sudantoko, atap masjid dikembalikan seperti aslinya, yakni menggunakan
    ijuk,” jelas Bambang.
        Seperti penyebaran Islam di tanah Jawa lainnya yang tak lepas dari pengaruh budaya sebelumnya. Khusus di Jawa, agama Hindu dan Budha merupakan agama yang sudah terlebih dulu dipeluk oleh masyarakat. Tak heran, jika kemudian banyak terjadi akulturasi antara kebudayaan agama-agama tersebut.
        Di desa Cikakak kecamatan Wangon, bukti akulturasi itu juga masih  terlihat sampai sekarang. Yang kasat mata tentu saja bentuk bangunan masjid dan ornamen serta bahan pembuatnya. "Bentuk limasan pada atap masjid saka tunggal adalah budaya asli Jawa yang mendapat pengaruh Hindu-Budha," ungkap Sugeng Priyadi, dosen ilmu sejarah UMP.
        Pengaruh Hindu menurutnya juga sangat tampak pada bahan pembuat atap masjid Saka Tunggal. "Atap dari ijuk adalah merupakan bukti bahwa pengaruh Hindu-Budha masih sangat kental pada bangunan masjid Saka Tunggal," sambung dosen yang punya spesialisasi sejarah Banyumas dan sekitarnya ini.
        Menurutnya, bukti itu masih bisa dilihat di Bali. "Candi-candi dan tempat berdoa di Bali menggunakan ijuk sebagai atapnya. Tidak seperti candi-candi di Jawa yang seluruhnya menggunakan batu sebagai bahan bangunannya," katanya.
        Bukti produk akulturasi Hindu-Budha-Jawa dan Islam adalah jenis aliran yang dianut warga setempat. Sesuai keterangan juru kunci dalem masjid Saka Tunggal, Bambang Jauhari, Islam yang berkembang di Cikakak dan sekitarnya adalah produk akulturasi budaya Jawa dan Islam. "Menurut saya, hampir tidak mungkin melaksanakan Islam secara saklek dan persis sama dengan yang diturunkan Allah di Arab sana. Karena itulah mungkin para leluhur kami menyesuaikannya dengan warisan budaya Jawa. Proses akulturasi ini yang kemudian memunculkan aliran Aboge (Alif Rebo Wage)," terangnya.
        Hingga hari ini, aliran Aboge masih eksis di daerah ini. Mereka hidup rukun berdampingan dengan aliran NU maupun Muhamadiyah yang juga diyakini oleh warga desa setempat.
    Baca Selengkapnya - Masjid saka tunggal (1288) Read more...

    Masjid Wapauwe

    Masjid Wapauwe
    KWARTETWO.COM:

    DI utara Pulau Ambon, tepatnya di Negeri (desa) Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, berdiri Masjid Tua Wapauwe yang berumur tujuh abad. Masjid yang dibangun tahun 1414 Masehi itu masih berdiri kokoh, menjadi bukti sejarah Islam masa lampau yang tak lapuk oleh hujan panas dan tak lekang dimakan usia.

    Masih dalam bentuk aslinya, masjid tersebut berdiri di atas sebidang tanah yang oleh warga setempat diberi nama Teon Samaiha. Berada di antara pemukiman penduduk Kaitetu dalam bentuk yang sangat sederhana. Masjid berdinding gaba-gaba (pelepah sagu kering) dan beratapkan daun rumbia ini masih digunakan, baik untuk shalat Jumat maupun shalat lima waktu, walaupun sudah ada masjid baru di desa itu.

    Bangunan induk Masjid Wapauwe hanya berukuran 10 x 10 meter, sedangkan bangunan tambahan yang merupakan serambi berukuran 6,35 x 4,75 meter. Tipologi bangunan berbentuk empat bujur sangkar. Bangunan asli pada saat pendiriannya tidak mempunyai serambi.

    Meskipun kecil dan sederhana, masjid ini mempunyai beberapa keunikan yang jarang dimiliki masjid lain, seperti konstruksi bangunan induk dirancang tanpa memakai paku atau pasak kayu pada setiap sambungan kayu.

    Di masjid ini juga tersimpan Mushaf Alquran yang konon tertua di Indonesia. Yang tertua adalah Mushaf Imam Muhammad Arikulapessy, selesai ditulis (tangan) pada tahun 1550 dan tanpa iluminasi (hiasan pinggir).

    Imam Muhammad Arikulapessy adalah imam pertama Masjid Wapauwe. Sedangkan mushaf lainnya adalah Mushaf Nur Cahya, selesai ditulis tahun 1590. Nur Cahya adalah cucu Imam Muhammad Arikulapessy dan mushaf karyanya juga tanpa iluminasi dan ditulis tangan pada kertas Eropa. Kedua Mushaf ini pernah dipamerkan di Festival Istiqlal di Jakarta, tahun 1991 dan 1995.

    Selain Alquran, karya Nur Cahya lainnya adalah Kitab Barzanzi (syair puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW), sekumpulan naskah khotbah seperti Naskah Khotbah Jumat Pertama Ramadhan 1661 M, Kalender Islam tahun 1407 M, sebuah falaqiah (peninggalan), serta manuskrip islam lain yang sudah berumur ratusan tahun.

    Semua warisan berharga itu merupakan pusaka Marga Hatuwe yang tersimpan dengan baik di rumah pusaka Hatuwe dan dirawat oleh Abdul Rachim Hatuwe, Keturunan XII Imam Muhammad Arikulapessy. Jarak antara rumah pusaka Hatuwe dengan Masjid Wapauwe hanya 50 meter.

    Untuk mencapai Negeri Kaitetu dapat menggunakan transportasi darat dengan menempuh waktu satu jam perjalanan. Bertolak dari Ambon melalui timur menuju Negeri Paso, pada simpang tiga membelok ke kiri melintasi jembatan menuju arah utara dan melewati pegunungan yang hijau dengan jalan berbelok serta menanjak. Dari sisi jalan terlihat jurang dan tebing bukit, terhampar tanaman cengkih dan pala menghijau.

    Memasuki Negeri Hitu - 22 kilometer dari Ambon -, yang terletak di pesisir Utara Pulau Ambon, jalan mulai menurun. Di depan tampak jelas Selat Seram dengan lautnya yang tenang. Pada simpang empat, membelok ke kiri menuju arah barat menyusuri pesisir Utara Jazirah Hitu, menempuh 12 kilometer jalan lagi untuk mencapai Negeri Kaitetu.

    Bukan suatu kebetulan, Masjid Wapauwe berada di daerah yang memiliki banyak ritus peninggalan purbakala. Sekitar 150 meter dari masjid ke arah utara, di tepi jalan raya terdapat gereja tua peninggalan Portugis dan Belanda. Gereja itu kini telah hancur akibat konflik agama yang meletus di Ambon tahun 1999 lalu.

    Selain itu, 50 meter dari gereja ke utara, berdiri dengan kokoh sebuah benteng tua ‘New Amsterdam’, benteng peninggalan Belanda yang mulanya loji Portugis. Benteng New Amsterdam terletak di bibir pantai, menjadi saksi sejarah perlawanan para pejuang Tanah Hitu melalui Perang Wawane (1634-1643) serta Perang Kapahaha (1643-1646).

    ‘’Masjid ini memiliki nilai historis arkeologis yang penting. Di dalamnya terpancar budaya masa lalu sehingga perlu kita lestarikan,’’ kata Mantan Pejabat Negeri Kaitetu, Djafar Lain.

    Di lain pihak, Djafar berharap keberadaan Masjid Wapauwe beserta peninggalan sejarah Islam lainnya yang sudah tua, bisa menjadi salah satu wilayah atau daerah tujuan wisata di Kepulauan Maluku.

    ‘’Sebelum kerusuhan banyak pengunjung (wisatawan, red) yang datang kemari, karena selain masjid, ada juga gereja tua dan benteng. Kondisinya berubah saat pecah kerusuhan, sekarang pengunjungnya sudah kurang, malah tidak ada lagi,’’ ungkapnya.

    Berdirinya Masjid Wapauwe di Negeri Kaitetu tidak terlepas dari hikayat perjalanan para mubaligh Islam yang datang dari Timur Tengah membawa ciri khas kebudayaannya ke dalam tatanan kehidupan masyarakat yang mendiami bagian utara Pulau Ambon, jazirah Hitu yang dikenal dengan sebutan Tanah Hitu.

    Ciri khas ini kemudian melahirkan satu peradaban yang bernuansa Islam dan masih bertahan di lingkungan masyarakat setempat hingga saat ini, seperti budaya kesenian (hadrat), perkawinan, dan khitanan.

    Mulanya Masjid ini bernama Masjid Wawane karena dibangun di Lereng Gunung Wawane oleh Pernada Jamilu, keturunan Kesultanan Islam Jailolo dari Moloku Kie Raha (Maluku Utara).

    Kedatangan Perdana Jamilu ke Tanah Hitu sekitar tahun 1400 M, untuk mengembangkan ajaran Islam pada lima negeri di sekitar pegunungan Wawane, yakni Assen, Wawane, Atetu, Tehala dan Nukuhaly, yang sebelumnya sudah dibawa oleh mubaligh dari negeri Arab.

    Masjid ini mengalami perpindahan tempat akibat gangguan dari Belanda yang menginjakkan kakinya di Tanah Hitu pada tahun 1580 setelah Portugis di tahun 1512.

    Sebelum pecah Perang Wawane tahun 1634, Belanda sudah mengganggu kedamaian penduduk lima kampung yang telah menganut ajaran Islam dalam kehidupan mereka sehari-hari. Merasa tidak aman dengan ulah Belanda, Masjid Wawane dipindahkan pada tahun 1614 ke Kampung Tehala yang berjarak 6 kilometer sebelah timur Wawane.

    Kondisi tempat pertama masjid ini berada di Lereng Gunung Wawane, sekarang sudah menyerupai kuburan. Jika ada daun dari pepohonan yang berada di sekitar tempat itu gugur, secara ajaib tak satupun daun yang jatuh di atasnya.

    Tempat kedua masjid ini berada di suatu daratan dimana banyak tumbuh pepohonan mangga hutan atau mangga berabu, yang dalam bahasa Kaitetu disebut Wapa. Itulah sebabnya masjid ini diganti namanya dengan sebutan Masjid Wapauwe, artinya masjid yang didirikan di bawah pohon mangga berabu.

    Pada tahun 1646, Belanda akhirnya menguasai seluruh Tanah Hitu. Dalam rangka kebijakan politik ekonominya, Belanda memerintahkan agar penduduk yang berdiam di daerah pegunungan segera membangun kampung baru di daerah pesisir, tidak terkecuali penduduk kelima negeri tadi. Proses pemindahan lima negeri ini terjadi tahun 1664, dan tahun itulah ditetapkan kemudian sebagai tahun berdirinya Negeri Kaitetu.

    Menurut cerita rakyat setempat, ketika masyarakat Tehala, Atetu dan Nukuhaly turun ke pesisir pantai dan bergabung menjadi negeri Kaitetu, Masjid Wapauwe masih berada di dataran Tehala.

    Pada suatu pagi, ketika masyarakat bangun dari tidurnya, masjid secara gaib telah berada di tengah-tengah pemukiman penduduk di tanah Teon Samaiha, lengkap dengan segala kelengkapannya.

    ‘’Menurut kepercayaan kami (masyarakat Kaitetu, red), masjid ini berpindah secara gaib. Menurut cerita orang tua-tua kami, saat masyarakat bangun pagi ternyata masjid sudah ada,’’ kata Mahmud Hatuwe, warga Kaitetu.

    Sementara itu, kondisi Mushaf Nur Cahya beserta manuskrip tua tampak terawat meskipun sudah mengalami sedikit kerusakan seperti berlobang kecil, sebagian seratnya terbuka dan tinta pecah akibat kelembaban udara.

    Menurut Rahman Hatuwe, ahli waris Mushaf Nur Cahya, kerusakan tersebut akibat kertasnya sudah tua, debu, kelembaban udara serta insek (hewan) kertas. Keluarga ahli waris pihaknya pernah mendapat obat serbuk untuk menjaga keawetan manuskrip-manuskrip tua itu, hanya saja obat tersebut sudah habis terpakai.

    ‘’Alquran Nur Cahya ini masih jelas, dan pada waktu-waktu tertentu saya masih sering membaca (ayat-ayat suci Alquran dari Mushaf ini, red), terutama saat bulan Ramadhan,’’ kata Rahman, keturunan VIII Imam Muhammad Arikulapessy.

    Baca Selengkapnya - Masjid Wapauwe Read more...

    Masjid ampel (1421)

    KWARTETWO.COM:
    Masjid Ampel adalah sebuah masjid kuno yang berada di bagian utara Kota Surabaya, Jawa Timur. Masjid ini didirikan oleh Sunan Ampel, dan didekatnya terdapat kompleks makam Sunan Ampel.
    Saat ini Masjid Ampel merupakan salah satu daerah tujuan wisata religi di surabaya. Masjid ini dikelilingi oleh bangunan berarsitektur tiongkok dan arab.
    Disamping kiri halaman Masjid Ampel, terdapat sebuah sumur yang diyakini merupakan sumur yang bertuah, biasanya digunakan oleh mereka yang meyakininnya untuk penguat janji atau sumpah.
     
    Bertolak dari sejarah, berdasar catatan dalam Kitab Pengging Teracah, setelah selesai mendatangi undangan Raja Brawijaya, penguasa Mojopahit, Sunan Ampel mendapat ganjaran Ampilan tanah untuk menyebarkan agama Islam di sisi utara tanah Jawa Timur.
    Perjalanan Sunan Ampel kala itu dibarengi beberapa pengikut, diantaranya Ki Wirosaroyo. Wirosaroyo sebelumnya beragama Hindu. Setelah masuk Islam, ia menyatakan ingin ikut perjalanan Sunan Ampel ke Surabaya. Kebetulan ia punya anak gadis bernama Karimah (yang kemudian disunting Sunan Ampel). Sesuai tradisi Jawa, orang tua kadang dipanggil dengan nama anak pertamanya. Jadi Ki Wirosaroyo sering dipanggil dengan nama Pak Karimah, atau lebih populer lagi dengan sebutan Mbah Karimah.
    “Sesampai di Surabaya, Sunan Ampel lebih dulu membangun tempat ibadah di Kembang Kuning. Nama Kembang Kuning konon berasal dari gebang kuning atau palm kuning yang waktu itu banyak tumbuh di kawasan ini. Versi lain menyebutkan, nama Kembang Kuning berasal dari hewan kumbang kuning,” jelas Amien.
    Tempat ibadah yang didirikan Sunan Ampel bersama Ki Wirosaroyo ini, lanjutnya, berbentuk musholla kecil berukuran sekitar 12x12 meter dan sekilas mirip cungkup. Lantainya menyerupai siti inggil yang menurut kepercayaan sangat pas untuk munajat pada Ilahi. Setelah itu, Sunan Ampel melanjutkan perjalanan dan sempat pula membangun tempat ibadah di kampung Peneleh. Baru setelah itu, Sunan Ampel membangun masjid di Ampel Dento yang bertengger megah dan kian ramai hingga kini.
    Jika mengunjungi masjid yang terletak di Jl. Ampel Suci 45 atau Jl. Ampel Masjid 53 ini, kita bisa melihat menara setinggi 30 meter di dekat pintu masuk sisi selatan. Di kompleks masjid, terdapat pula sumur dan bedug kecil peninggalan Sang Sunan, serta 16 tiang setinggi 17 meter (lengkap dengan ukiran kaligrafi bertuliskan Ayat Kursi) yang menyangga atap masjid seluas 800 meter persegi. Tak kalah menarik, kita bisa menyaksikan hiasan lambang Kerajaan Majapahit di bagian atas pintu yang mengelilingi Masid Ampel. Dipakainya rangkaian lambang itu, bisa jadi merupakan bentuk penghormatan Sunan Ampel pada Raja Mojopahit yang sudah berbaik hati memberi Ampilan tanah di Surabaya.
    “Hingga sekarang, bangunan Masjid Ampel relatif masih sesuai aslinya. Ini sangat berbeda dengan Langgar Tiban di Kembang Kuning yang sudah berubah dari bangunan awalnya. Langgar itu sudah direnovasi total jadi Masjid Rahmat,” katanya. Renovasi total itu dilakukan, konon, untuk menghindarkan dari pengkultusan dan kesirikan yang bisa saja dilakukan oleh umat Islam.
    Meski demikian, tak dipungkiri bila citra Masjid Ampel berselimut keagungan dan keajaiban. Termasuk cerita tentang Mbah Sholeh yang konon memiliki sembilan nyawa. Mbah Sholeh, kata sebuah riwayat, adalah pengikut setia Sunan Ampel, yang semasa hidupnya rajin membantu membangun dan membersihkan masjid.
    Suatu ketika, Sunan Ampel tanpa sengaja berdesah, “Ah, seandainya Mbah Sholeh masih hidup, tentu pekarangan masjid tidak kotor begini”. Seketika itu, Mbah Soleh yang sudah meninggal, mendadak muncul dan segera membantu Sunan Ampel membersihkan masjid. Keajaiban itu berulang kali terjadi sampai sembilan kali, hingga wafatnya Sunan Ampel pada tahun 1478 di Ampel.
    Mbah Sholeh pun yang meninggal tak lama kemudian dimakamkan di kompleks makam Masjid Ampel lama sebelah utara. Di sini, kita bisa melihat sembilan batu nisan yang berjejer rapi, sebagai tanda Mbah Sholeh pernah hidup dan mati sembilan kali. Di sisi barat masjid, ada makam Mbah Sonhaji atau juga dikenal dengan sebutan Mbah Bolong.
    Menurut cerita, Mbah Bolong adalah orang yang berjasa menentukan arah kiblat dengan cara melubangi (mbolongi, jawa) dinding menggunakan jarinya untuk melihat Ka’bah di Mekkah. Selain makam Mbah Bolong, ada beberapa makam syuhada dan para santri Sunan Ampel. Beberapa meter dari makam-makam ini, terdapatlah makam Sunan Ampel, berdampingan dengan isteri pertamanya, Dewi Condrowati, salah satu putri Raja Brawijaya.

    Baca Selengkapnya - Masjid ampel (1421) Read more...

    Masjid agung demak

    Masjid Agung Demak
    KWARTETWO.COM:
    Masjid Agung Demak adalah sebuah mesjid yang tertua di Indonesia. Masjid ini terletak di desa Kauman, Demak, Jawa Tengah. Masjid ini dipercayai pernah merupakan tempat berkumpulnya para ulama (wali) penyebar agama Islam, disebut juga Walisongo, untuk membahas penyebaran agama Islam di Tanah Jawa khususnya dan Indonesia pada umumnya. Pendiri masjid ini diperkirakan adalah Raden Patah, yaitu raja pertama dari Kesultanan Demak.

    Bangunan yang terbuat dari kayu jati ini berukuran 31 m x 31 m dengan bagian serambi berukuran 31 m x 15 m. Atap tengahnya ditopang oleh empat buah tiang kayu raksasa (saka guru), yang dibuat oleh empat wali di antara Wali Songo. Saka sebelah tenggara adalah buatan Sunan Ampel, sebelah barat daya buatan Sunan Gunung Jati, sebelah barat laut buatan Sunan Bonang, sedang sebelah timur laut yang tidak terbuat dari satu buah kayu utuh melainkan disusun dari beberapa potong balok yang diikat menjadi satu (saka tatal), merupakan sumbangan dari Sunan Kalijaga. Serambinya dengan delapan buah tiang boyongan merupakan bangunan tambahan pada zaman Adipati Yunus (Pati Unus atau pangeran Sabrang Lor), sultan Demak ke-2 (1518-1521) pada tahun 1520.

    A.  Selayang Pandang

    Masjid  Agung Demak merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Masjid ini memiliki nilai historis yang sangat penting bagi perkembangan Islam di tanah air, tepatnya pada masa Kesultanan Demak Bintoro. Banyak masyarakat memercayai masjid  ini sebagai tempat berkumpulnya para wali penyebar agama Islam, yang lebih dikenal  dengan sebutan Walisongo (Wali Sembilan). Para wali ini sering berkumpul untuk beribadah, berdiskusi tentang penyebaran agama Islam, dan mengajarkan ilmu-ilmu Islam kepada penduduk sekitar. Oleh karenanya, masjid ini bisa dianggap sebagai monumen hidup penyebaran Islam di Indonesia dan bukti kemegahan Kesultanan  Demak Bintoro.
    Masjid Agung Demak didirikan dalam tiga tahap. Tahap pembangunan pertama adalah pada tahun 1466. Ketika itu masjid ini masih berupa bangunan Pondok Pesantren  Glagahwangi di bawah asuhan Sunan Ampel. Pada tahun 1477, masjid ini dibangun  kembali sebagai masjid Kadipaten Glagahwangi Demak. Pada tahun 1478, ketika  Raden Fatah diangkat sebagai Sultan I Demak, masjid ini direnovasi dengan penambahan  tiga trap. Raden Fatah bersama Walisongo memimpin proses pembangunan masjid ini  dengan dibantu masyarakat sekitar. Para wali saling membagi tugasnya masing-masing. Secara umum, para wali menggarap soko guru yang menjadi tiang  utama penyangga masjid. Namun, ada empat wali yang secara khusus memimpin pembuatan  soko guru lainnya, yaitu: Sunan Bonang memimpin membuat soko guru di bagian  barat laut; Sunan Kalijaga membuat soko guru di bagian timur laut; Sunan Ampel  membuat soko guru di bagian tenggara; dan Sunan Gunungjati membuat soko guru di  sebelah barat daya.
     

    B.  Keistimewaan

    Luas  keseluruhan bangunan utama Masjid Agung Demak adalah 31 x 31 m2. Di  samping bangunan utama, juga terdapat serambi masjid yang berukuran 31 x 15 m  dengan panjang keliling 35 x 2,35 m;  bedug dengan ukuran 3,5 x 2,5 m; dan tatak rambat dengan ukuran 25 x 3  m. Serambi masjid berbentuk bangunan yang terbuka. Bangunan masjid ditopang  dengan 128 soko, yang empat di antaranya merupakan soko guru sebagai penyangga  utamanya. Tiang penyangga bangunan masjid berjumlah 50 buah, tiang penyangga serambi berjumlah 28 buah, dan tiang kelilingnya berjumlah 16 buah.  
    Masjid ini  memiliki keistimewaan berupa arsitektur khas ala Nusantara. Masjid ini  menggunakan atap limas bersusun tiga yang berbentuk segitiga sama kaki. Atap limas  ini berbeda dengan umumnya atap masjid di Timur Tengah yang lebih terbiasa dengan  bentuk kubah. Ternyata model atap limas bersusun tiga ini mempunyai makna,  yaitu bahwa seorang beriman perlu menapaki tiga tingkatan penting dalam keberagamaannya: iman, Islam, dan ihsan. Di samping itu, masjid ini memiliki lima  buah pintu yang menghubungkan satu bagian dengan bagian lain, yang memiliki  makna rukun Islam, yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji. Masjid ini  memiliki enam buah jendela, yang juga memiliki makna rukun iman, yaitu percaya  kepada Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, hari  kiamat, dan qadha-qadar-Nya.
    Bentuk bangunan  masjid banyak menggunakan bahan dari kayu. Dengan bahan ini, pembuatan bentuk  bulat dengan lengkung-lengkungan akan lebih mudah. Interior bagian dalam masjid  juga menggunakan bahan dari kayu dengan ukir-ukiran yang begitu indah.
    Bentuk bangunan masjid yang unik tersebut ternyata hasil kreativitas masyarakat pada saat itu. Di samping banyak mengadopsi perkembangan arsitektur lokal ketika itu, kondisi iklim tropis (di antaranya berupa ketersediaan kayu) juga mempengaruhi proses pembangunan masjid. Arsitektur bangunan lokal yang berkembang pada saat itu,  seperti joglo, memaksimalkan bentuk limas dengan ragam variasinya.
    Masjid  Agung Demak berada di tengah kota dan menghadap ke alun-alun yang luas. Secara  umum, pembangunan kota-kota di Pulau Jawa banyak kemiripannya, yaitu suatu  bentuk satu-kesatuan antara bangunan masjid, keraton, dan alun-alun yang berada  di tengahnya. Pembangunan model ini diawali oleh Dinasti Demak Bintoro. Diperkirakan, bekas Keraton Demak ini berada di sebelah selatan Masjid Agung  dan alun-alun.
    Di lingkungan Masjid Agung Demak ini terdapat sejumlah benda-benda peninggalan bersejarah, seperti Saka Tatal, Dhampar Kencana, Saka Majapahit, dan Maksurah. Di samping  itu, di lingkungan masjid juga terdapat komplek makam sultan-sultan Demak dan  para abdinya, yang terbagi atas empat bagian: 
    • Makam Kasepuhan, yang terdiri atas 18 makam, antara  lain makam Sultan Demak I (Raden Fatah) beserta istri-istri dan putra-putranya,  yaitu Sultan Demak II (Raden Pati Unus) dan Pangeran Sedo Lepen (Raden  Surowiyoto), serta makam putra Raden Fatah, Adipati Terung (Raden Husain).
    • Makam Kaneman, yang terdiri atas 24 makam, antara lain makam Sultan Demak III (Raden Trenggono), makam istrinya, dan makam  putranya, Sunan Prawoto (Raden Hariyo Bagus Mukmin). 
    • Makam di sebelah barat Lasepuhan dan Kaneman, yang terdiri atas makam Pangeran Arya Penangsang, Pangeran Jipang, Pangeran Arya  Jenar, Pangeran Jaran Panoleh. 
    • Makam lainnya, seperti makam Syekh Maulana Maghribi, Pangeran Benowo, dan Singo Yudo.
     

    C. Arsitektur

    Masjid ini mempunyai bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru. Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit.
    Di dalam lokasi kompleks Masjid Agung Demak, terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak dan para abdinya. Di sana juga terdapat sebuah museum, yang berisi berbagai hal mengenai riwayat berdirinya Masjid Agung Demak.

     

    D. Lokasi

    Masjid  Agung Demak terletak di Desa Kauman, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah,  Indonesia.

     

     

    E. Akses

    Letak masjid yang berada di tengah kota memudahkan bagi pengunjung untuk menuju  lokasi, baik dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.

    Baca Selengkapnya - Masjid agung demak Read more...

    Masjid sultan suriansyah

    Sultan Suriansyah_0014
    KWARTETWO.COM:
    Masjid Sultan Suriansyah adalah sebuah masjid bersejarah yang merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan. Masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Tuan Guru (1526-1550), Raja Banjar yang pertama masuk islam.
    Masjid ini terletak di utara Kecamatan Kesehatan, Banjarmasin Utara, Banjarmasin, daerah yang dikenal sebagai Banjar Lama merupakan ibukota Kesultanan Banjar untuk pertama kalinya.
    Arsitektur tahap konstruksi dan atap tumpang tindih, merupakan masjid bergaya tradisional banjar. Gaya masjid tradisional di banjar mihrabnya memiliki atap sendiri terpisah dengan bangunan utama. Masjid ini dibangun di tepi sungai di Kecamatan Kesehatan.
     
    Sabtu, 14 November 2009 05:24
    Sultan Suriansyah_0004Sejarah Kota Banjarmasin tidak akan bisa dipisahkan dari Sultan Suriansyah, pendiri dan raja pertama kerajaan Banjar. Sultan Suriansyah merupakan raja Kerajaan Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Salah satu bukti peninggalannnya adalah Masjid Sultan Suriansyah. Masjid ini terletak di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin sekitar setengah jam perjalanan dari pusat Kota. Selain dengan angkutan darat, kita juga bisa mengunjungi masjid ini dengan menggunakan transportasi sungai karena masjid ini juga terletak di pinggir Sungai Kuin.

    Masjid dengan arsitektur kuno ini masih kokoh berdiri hingga sekarang, didalamnya kita bisa melihat ornamen-ornamen khas banjar. Didalam masjid juga terdapat sebuah Mimbar Kuno yang masih digunakan oleh khatib untuk khutbah Jum’at. Walaupun tidak terlalu besar, masjid Sultan Suriansyah adalah saksi bisu perkembangan Kota Banjarmasin dari masa ke masa.
    Sultan Suriansyah_0012Sultan Suriansyah_0007
    Sultan Suriansyah_0008Sultan Suriansyah_0011
    Tidak jauh dari Masjid, kita juga dapat melihat Kompleks Makam Sultan Suriansyah. Masyarakat banyak yang datang untuk berziarah ke makam ini, apalagi pada hari-hari libur. Dikomplek makan ini juga terdapat sebuah museum kecil tempat menyimpan peninggalan sejarah kerajaan Banjar.

    Sultan Suriansyah_0002
     
    Baca Selengkapnya - Masjid sultan suriansyah Read more...

    Masijd Menara Kudus

    KWARTETWO.COM: Penyebaran agama Islam di Jawa dilakukan oleh para pedagang, yang dipelopori oleh Maulana Maghribi, yang lebih dikenal dengan nama Maulana Malik Ibrahim. Beliau menyebarkan Islam tidak hanya sendiri, melainkan bersama-sama dengan yang lain atau biasa disebut dengan Wali Songo. Wali-wali tersebut menyampaikan risalah Islam dengan cara yang berbeda, salah diantaranya adalah yang kita kenal dengan Ja'far Shodiq atau biasa disebut dengan Kanjeng Sunan Kudus.



    Banyak masyarakat yang berkunjung ke mesjid ini, terlebih dihari-hari besar agama Islam







    Masjid Menara Kudus merupakan salah satu peninggalan sejarah, sebagai bukti  proses penyebaran Islam di Tanah Jawa. Masjid ini tergolong unik karena desain bangunannya, yang merupakan penggabungan antara Budaya Hindu dan Budaya Islam. Sebagaimana kita ketahui, sebelum Islam, Di Jawa telah berkembang agama Budha dan Hindu dengan peninggalannya berupa Candi dan Pura. Selain itu ada penyembahan terhadap Roh Nenek Moyang (Animisme) dan kepercayaan terhadap benda-benda (Dinamisme). Masjid Menara Kudus menjadi bukti, bagaimana sebuah perpaduan antara Kebudayaan Islam dan Kebudayaan Hindu telah menghasilkan sebuah bangunan yang tergolong unik dan bergaya arsitektur tinggi. Sebuah bangunan masjid, namun dengan menara dalam bentuk candi dan berbagai ornamen lain yang bergaya Hindu.
    Menurut sejarah, Masjid Menara Kudus didirikan oleh Sunan Kudus atau Ja'far Shodiq ialah putera dari R.Usman Haji yang bergelar dengan Sunan Ngudung di Jipang Panolan (ada yang mengatakan tempat tersebut terletak di sebelah utara Blora). Sunan Kudus kawin dengan Dewi Rukhil, puteri dari R.Makdum Ibrahim, Kanjeng Sunan Bonan di Tuban. R.Makdum Ibrahim adalah putera R.Rachmad (Sunan Ampel) putera Maulana Ibrahim. Dengan demikian Sunan Kudus adalah menantunya Kanjeng Sunan Bonang. Sunan Kudus selain dikenal seorang ahli agama juga dikenal sebagai ahli ilmu tauhid, ilmu hadist dan ilmu fiqh. Karena itu, diantara kesembilan wali, hanya beliau yang terkenal sebagai "Waliyil Ilmi". Adapun cara Sunan Kudus menyebarkan agama Islam adalah dengan jalan kebijaksanaan, sehingga mendapat simpati dari penduduk yang saat itu masih memeluk agama Hindu. Salah satu contohnya adalah, Sapi merupakan hewan yang sangat dihormati oleh agama Hindu, suatu ketika kanjeng Sunan mengikat sapi di pekarangan masjid, setelah mereka datang Kanjeng Sunan bertabligh, sehingga diantara mereka banyak yang memeluk Islam. Dan sampai sekarang pun di wilayah Kudus, khususnya Kudus Kulon dilarang menyembelih sapi sebagai penghormatan terhadap agama Hindu sampai dengan saat ini.


    Menara mesjid Kudus yang bercorak Hindu, menyerupai bentuk candi. Konon dibawah menara Kudus, dulunya terdapat sebuah sumber mata air kehidupan.






    Penghormatan lain adalah diwujudkan dalam bentuk bangunan menara masjid yang bercorak Hindu. Menurut sejarah, masjid Kudus dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 956 H. Hal ini terlihat dari batu tulis yang terletak di Pengimaman masjid, yang bertuliskan dan berbentuk bahasa Arab, yang sukar dibaca karena telah banyak huruf-huruf yang rusak. Batu itu berperisai, dan ukuran perisai tersebut adalah dengan panjang 46 cm, lebar 30 cm. Konon kabarnya batu tersebut berasal dari Baitulmakdis ( Al Quds ) di Yerussalem - Palestina. Dari kata Baitulmakdis itulah muncul nama Kudus yang artinya suci, sehingga masjid tersebut dinamakan masjid Kudus dan kotanya dinamakan dengan kota Kudus.
    Masjid Menara Kudus ini terdiri dari 5 buah pintu sebelah kanan, dan 5 buah pintu sebelah kiri. Jendelanya semuanya ada 4 buah. Pintu besar terdiri dari 5 buah, dan tiang besar di dalam masjid yang berasal dari kayu jati ada 8 buah. Namun masjid ini tidak sesuai aslinya, lebih besar dari semula karena pada tahun 1918 - an telah direnovasi. Di dalamnya terdapat kolam masjid, kolam yang berbentuk "padasan" tersebut merupakan peninggalan jaman purba dan dijadikan sebagai tempat wudhu. Masih menjadi pertanyaan sampai sekarang, apakah kolam tersebut peninggalan jaman Hindu atau sengaja dibuat oleh Sunan Kudus untuk mengadopsi budaya Hindu. Di dalam masjid terdapat 2 buah bendera, yang terletak di kanan dan kiri tempat khatib membaca khutbah. Di serambi depan masjid terdapat sebuah pintu gapura, yang biasa disebut oleh penduduk sebagai "Lawang kembar", konon kabarnya gapura tersebut berasal dari bekas kerajaan Majapahit dahulu, gapura tersebut dulu dipakai sebagai pintu spion.
    Cerita mengenai menara Kudus pun ada berbagai versi, ada pendapat yang mengatakan," bahwa menara Kudus adalah bekas candi orang Hindu,". Buktinya bentuknya hampir mirip dengan Candi Kidal yang terdapat di Jawa Timur yang didirikan kira-kira tahun 1250 atau mirip dengan Candi Singosari. Pendapat lain mengatakan kalau dibawah menara Kudus, dulunya terdapat sebuah sumber mata air kehidupan. Kenapa ? karena mahluk hidup yang telah mati kalau dimasukkan dalam mata air tersebut menjadi hidup kembali. Karena dikhawatirkan akan dikultuskan, ditutuplah mata air tersebut dengan bangunan menara. Menara Kudus itu tingginya kira-kira 17 meter, di sekelilingnya dihias dengan piringan-piringan bergambar yang kesemuanya berjumlah 32 buah banyaknya. 20 buah diantaranya berwarna biru serta berlukiskan masjid, manusia dengan unta dan pohon kurma. Sedang 12 buah lainnya berwarna merah putih berlukiskan kembang. Dalam menara ada tangganya yang terbuat dari kayu jati yang mungkin dibuat pada tahun 1895 M. Tentang bangunannya dan hiasannya jelas menunjukkan hubungannya dengan kesenian Hindu Jawa. Karena bangunan Menara Kudus itu terdiri dari 3 bagian : (1) Kaki (2) Badan dan (3) Puncak bangunan. Dihiasi pula dengan seni hias, atau artefix ( hiasan yang menyerupai bukit kecil ).


    Ziarah kubur merupakan salah satu bentuk kunjungan yang banyak dilakukan oleh berbagai lapisan masyarakat dari dalam maupun luar kota









    Tampak dari depan sekilas memang masjid Menara Kudus ini kelihatan kecil, namun setelah masuk ke dalam luas sekali. Selain masjid, ternyata di belakang masjid adalah komplek makam Kanjeng Sunan Kudus dan para keluarganya. Pintu masuk makam terletak disebelah kanan masjid, kemudian setelah melalui jalan kecil kita akan melalui pintu kedua memasuki komplek yang didalamnya ada pondokan-pondokan. Ditengah-tengah  pondokan tersebut ada sebuah bangunan paling besar, konon kabarnya bangunan tersebut adalah tempat pertemuan para Walisongo sekaligus tempat Sunan Kudus memberikan wejangan kepada para muridnya. Disebelah utara sebuah komplek ini ada sebuah pintu kecil menuju ke komplek pemakaman Kanjeng Sunan. Komplek-komplek makam tersebut terbagi-bagi dalam beberapa blok, dan tiap blok merupakan bagian tersendiri dari hubungannya terhadap Kanjeng Sunan. Ada blok para putera dan puteri Kanjeng Sunan, ada blok para Panglima perang dan blok paling besar adalah makam Kanjeng Sunan sendiri. Uniknya adalah semua pintu penghubung antar blok berbentuk gapura candi-candi. Tembok-tembok yang mengitarinya pun dari bata merah yang disusun berjenjang, ada yang menjorok ke dalam dan ke luar seperti layaknya bangunan candi. Panorama yang nampak adalah komplek pemakaman Islam namun bercorak Hindu.
    Kesan unik dan historis inilah yang sangat menarik para wisatawan religi maupun wisatawan biasa. Setiap hari tempat ini selalu ramai dikunjungi oleh para wisatawan, wisatawan yang berasal dari sekitar kota Kudus biasanya berkunjung pada hari biasa, hari Sabtu dan Minggu biasanya lebih banyak pengunjung dari luar kota. Tanggal 10 Syura' merupakan puncak keramaian di komplek masjid ini, dalam rangka khaul wafatnya Kanjeng Sunan Kudus. Walaupun mengandung keunikan yang khas, namun tata ruang sekitar masjid nampak amburadul. Karena terletak dipusat kota Kudus, hanya 5 menit dari alun-alun kota Kudus, masjid ini dikepung oleh perumahan penduduk yang cukup padat. Sehingga, mengurangi keindahan komplek bangunan Masjid Menara Kudus ini yang sekarang masuk sebagai salah satu cagar budaya. Selain itu, banyaknya pengemis yang berada disekitar masjid, juga dapat mengganggu para pengunjung yang datang. Agar terus terjaga kelestariannya, penataan ruang sekitar masjid harus diperbaiki kembali untuk mempertahankan kesan indah dan unik Masjid Menara Kudus ini.
    Baca Selengkapnya - Masijd Menara Kudus Read more...

    Masjid Agung Banten

    KWARTETWO.COM:
    Masjid Agung Banten termasuk masjid tua yang penuh nilai sejarah. Setiap harinya masjid ini ramai dikunjungi para peziarah yang datang tak hanya dari Banten dan Jawa Barat, tapi juga dari berbagai daerah di pulau Jawa.
    Masjid Agung Banten terletak di kompleks bangunan masjid di Desa Banten Lama, sekitar 10 km sebelah utara Kota Serang. Masjid ini dibangun pertama kali oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), sultan pertama Kasultanan Demak. Ia adalah putra pertama Sunan Gunung Jati.
    Salah satu kekhasan yang tampak dari masjid ini adalah adalah atap bangunan utama yang bertumpuk lima, mirip pagoda china. Ini adalah karya arsitektur china yang bernama Tjek Nan Tjut. Dua buah serambi yang dibangun kemudian menjadi pelengkap di sisi utara dan selatan bangunan utama.


    Di masjid ini juga terdapat komplek makam sultan-sultan banten serta keluarganya. Yaitu makam Sultan Maulana Hasanuddin dan istrinya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Abu Nasir Abdul Qohhar. Sementara di sisi utara serambi selatan terdapat makam Sultan Maulana Muhammad dan Sultan Zainul Abidin, dan lainnya.
    Masjid Agung Banten juga memiliki paviliun tambahan yang terletak di sisi selatan bangunan inti masjid agung. Paviliun dua lantai ini dinamakan Tiyamah. Berbentuk persegi panjang dengan gaya arsitektur belanda kuno. Bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek belanda bernama Hendick Lucasz Cardeel. Biasanya, acara-acara seperti rapat, dan kajian Islami dilakukan di sini.
    Menara yang menjadi ciri khas sebuah masjid juga dimiliki Masjid Agung Banten. Terletak di sebelah timur masjid, menara ini terbuat dari batu bata dengan ketinggian kurang lebih 24 meter, diameter bagian bawahnya kurang lebih 10 meter. Untuk mencapai ujung menara, ada 83 buah anak tangga yang harus ditapaki dan melewati lorong yang hanya dapat dilewati oleh satu orang. Dari atas menara ini, pengunjung dapat melihat pemandangan di sekitar masjid dan perairan lepas pantai, karena jarak antara menara dengan laut hanya sekitar 1,5 km.
    Dahulu, selain digunakan sebagai tempang mengumandangkan azan, menara yang juga dibuat oleh Hendick Lucasz Cardeel ini digunakan sebagai tempat menyimpan senjata.
    Baca Selengkapnya - Masjid Agung Banten Read more...

    Masjid Mantingan

    KWARTETWO.COM:

    Masjid dan Makam Mantingan terletak di desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, 5 km kearah selatan dari pusat kota Jepara. Desa ini terkenal karena disini terletak makam Sultan Hadirin dan istrinya, Ratu Kalinyamat. Sultan Hadirin adalah orang muslim yang memimpin penyebar luasan agama Islam pada waktu itu di pesisir utara Jepara. Masjid Mantingan merupakan masjid tertua kedua setelah Masjid Agung Demak.
    Masjid Mantingan didirikan pada tahun 1559 sesuai dengan statement yang terdapat didalam masjid RUPA BRAHMANA WANASARI yang ditulis oleh Raden Toyib. pada Awalnya Raden Toyib mempelajari agama Islam di Mekah dan cina. Setelah menyelesaikan belajar, dia pindah ke Jepara dan menikah dengan Ratu Kalinyamat (Retno Kencono), saudara perempuan dari Sultan Trenggono dari Kerajaan Demak. Kemudian dia dikenal sebagai Sultan Hadirin dan dinobatkan sebagai Adipati Jepara sampai beliau meninggal dan dimakamkan disebelah Masjid yang dia dirikan yaitu Masjid Mantingan.
    Makam Mantingan
    Makam Mantingan

    Di pemakaman ini, juga dimakamkan istrinya yaitu Ratu Kalinyamat dan saudaranya yang keturunan China Cie Gwi Gwan. Pemakaman ini ramai dikunjungi pada saat KHOL, hari dimana masyarakat memperingati hari meninggalnya Sultan Hadirin. Ritual ini diadakan setahun sekali pada tanggal 17 Rabiul Awal (Kalender Muslim), sama dengan hari lahirnya kota Jepara.
    Baca Selengkapnya - Masjid Mantingan Read more...

    Masjid Al-Hilal Katanga (1603)

    KWARTETWO.COM:
    Masjid ini dibangun pada tahun 1603 masehi pada masa pemerintahan Raja Gowa-24, Aku Manga’ragi Daeng-Manrabbiakaraeng Lakiung, Sultan Alauddin. Kemudian pada tahun 1605 m, masjid ini benar-benar dirubah untuk diberi nama Masjid Katangka. Masjid berukuran 14,1 x struktur 14,4 meter dan sebuah bangunan tambahan 4,1 x 14,4 meter. Tinggi bangunan 11,9 meter dan 90 meter dinding tebel, bahan baku dari batu bata dengan atap ubin dan lantai porselen. Lokasi di Katangka, Gowa.
    , masjid dirombak menjadi masjid Kerajaan bernama Masjid Katangka. Beberapa pemugaran yang tercatat ialah:
    • Tahun 1818 oleh Mangkubumi Gowa XXX, Sultan Kadir
    • Tahun 1826 Oleh Raja Gowa XXX, Sultan Abdul Rauf
    • Tahun 1893 oleh raja gowa XXXIV , Sultan Muhhamad Idris
    • Tahun 1948 oleh Raja Gowa XXXVI, Sultan Muhammad abdul Aidid dan Qadhi Gpowa H. Manysur daeng Limpo
    • Tahun 1962 oleh Mangkubumi Gowa Audi Baso Daeng Rani Karaeng Bontolangkasa
    • Tahun 1979 oleh Depdikbud RI, selanjutnya masjid ini lebih dikenal oleh masyarakat sebagai masjid  Al Hilal Katangka.
    Baca Selengkapnya - Masjid Al-Hilal Katanga (1603) Read more...

    Masjid Tua Palopo (1604)

    Mesjid Tua Palopo
    KWARTETWO.COM: Madjid Tua Palopo, didirikan oleh Raja Luwu bernama Sultan Abdullah Matinroe pada tahun 1604 m, masjid yang memiliki luas 15 m2 ini diberi nama Orang Tua, karena usia yang sudah tua. Sedangkan nama Palopo diambil dari kata dalam bahasa bugis dan luwu memiliki dua arti, yaitu: Pertama, penganan yang terbuat dari campuran beras ketan dan air gula. Kedua, memasukkan pasak dalam lubang tiang bangunan. Kedua makna memiliki hubungan dengan proses pembangunan Masjid tua Palopo ini.

    A. Selayang Pandang

    Masjid  Tua Palopo merupakan masjid Kerajaan Luwu yang didirikan oleh Raja Luwu yang bernama Datu Payung Luwu XVI Pati Pasaung Toampanangi Sultan Abdullah Matinroe pada tahun 1604 M. Masjid yang memiliki luas 15 m2 ini diberi nama Tua, karena usianya yang sudah tua. Sedangkan nama Palopo diambil dari kata dalam bahasa Bugis dan Luwu yang memiliki dua arti, yaitu: pertama, penganan yang terbuat dari campuran nasi ketan dan air gula; kedua, memasukkan pasak dalam lubang tiang bangunan. Kedua makna ini memiliki relasi dengan proses pembangunan Masjid Tua Palopo ini.
    Sebagian masyarakat percaya bahwa bagi orang yang datang ke Kota Palopo, belum dikatakan resmi menginjakkan kaki di kota ini apabila belum menyentuh tiang utama Masjid Tua Palopo yang terbuat dari pohon Cinaduri, serta dinding tembok yang menggunakan bahan campuran dari putih telur. Oleh karena itu, masjid ini tidak pernah sepi dari jemaah, khususnya pada bulan Ramadhan. Pada bulan tersebut, setiap selesai shalat dhuhur hingga menjelang berbuka puasa, biasanya para jamaah tetap tinggal di masjid untuk mengaji, tadarrus Alquran, dan berzikir. Jamaah yang datang bukan hanya warga Kota Palopo, tetapi banyak juga yang datang dari kabupaten tetangga, seperti Luwu, Luwu Utara, Sidrap, dan Wajo.

    B. Keistimewaan

    Arsitektur Masjid Tua Palopo ini sangat unik. Ada empat unsur penting yang bersebati (melekat) dalam konstruksi masjid tua ini, yaitu unsur lokal Bugis, Jawa, Hindu dan Islam.
    Pertama, unsur lokal Bugis. Unsur ini terlihat pada struktur bangunan masjid secara keseluruhan yang terdiri dari tiga susun yang mengikuti konsep rumah panggung. Konsep tiga susun ini juga konsisten diterapkan pada bagian lainnya, seperti atap dan hiasannya yang terdiri dari tiga susun; tiang penyangga juga terdiri dari tiga susun, yaitu pallanga (umpak), alliri possi (tiang pusat) dan soddu; dinding tiga susun yang ditandai oleh bentuk pelipit (gerigi); dan pewarnaan tiang bangunan yang bersusun tiga dari atas ke bawah, dimulai dari warna hijau, putih dan coklat.
    Kedua, unsur Jawa. Unsur ini terlihat pada bagian atap, yang dipengaruhi oleh atap rumah joglo Jawa yang berbentuk piramida bertumpuk tiga atau sering disebut tajug. Dua tumpang atap pada bagian bawah disangga oleh empat tiang, dalam konstruksi Jawa sering disebut sokoguru. Sedangkan atap piramida paling atas disangga oleh kolom (pilar) tunggal dari kayu cinna gori (Cinaduri) yang berdiameter 90 centimeter. Pada puncak atap masjid, terdapat hiasan dari keramik berwarna biru yang diperkirakan berasal dari Cina.
    Ketiga, unsur Hindu. Unsur ini terlihat pada denah masjid yang berbentuk segi empat yang dipengaruhi oleh konstruksi candi. Pada dinding bagian bawah, terdapat hiasan bunga lotus, mirip dengan hiasan di Candi Borobudur. Pada dinding bagian atas juga terdapat motif alur yang mirip dengan hiasan candi di Jawa.
    Keempat, unsur Islam. Unsur ini terlihat pada jendela masjid, yaitu terdapat lima terali besi yang berbentuk tegak, yang melambangkan jumlah shalat wajib dalam sehari semalam.

    C. Lokasi

    Masjid Tua Palopo terletak di Kota Palopo, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia.

    D. Akses

    Kota Palopo berada 390 km di sebelah utara Kota Makassar. Perjalanan dari Kota Makassar ke Kota Palopo dapat ditempuh dengan menggunakan mobil pribadi maupun dengan angkutan umum, berupa mobil panther, kijang, dan bus.
    Baca Selengkapnya - Masjid Tua Palopo (1604) Read more...

    Masjid Pathok Negara Ad-Darojat Babadan

    KWARTETWO.COM: Masjid Ad-Darojat Babadan adalah salah satu masjid patok negara yang didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1774 di atas tanah mutihan atau Sultan ground seluas 120 meter persegi.

    Pada zaman penjajahan Jepang yakni pada tahun 1940, Masjid Ad-Darojat dan masyarakat Babadan dipindah ke Desa Badabadan Jl. Kaliurang, Kentungan, Sleman. Perpindahan ini dikarenakan saat itu daerah Babadan terkena pelebaran pangkalan pesawat terbang dan sebagai gudang senjata. Akibat perpindahan tersebut denyut kampung Babadan sebagai kampung santri sempat mengalami tidur panjang. Akibat perpindahan yang dilakukan oleh Jepang tersebut, masjid Patok Negara atau Negoro tersebut menjadi tak terurus.

    Saat terjadi pengusiran oleh Jepang, memang tidak semua penduduk ikut boyong ke Kentungan. Sebagian warga Babadan tetap tinggal di kampung halamannya. Setelah ditinggalkan warga, masjid ini hanya tersisa fondasi dan temboknya saja. Hal ini dikarenakan seluruh konstruksi kayu masjid ikut dipindah dan dibangun kembali di Babadan Kentungan.

    Setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia ke-2 yang akhirnya seluruh personil dan tentaranya meninggalkan Indonesia, secara otomatis pembangunan perluasan pangkalan udara pun urung dilaksanakan. Sekitar tahun 1950-an mulai banyak masyarakat yang datang ke kampung Babadan dan akhirnya menetap di sana.

    Pada tahun 1960-an salah seorang warga Babadan bernama Muthohar mempunyai niat untuk membangun kembali masjid peninggalan Sultan Hamengkubuwono I tersebut. Pembangunan kembali masjid tersebut dilakukan semasa Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Atas dukungan Sultan maka nama Sultan Hamengku Buwana IX "Ndoro Jatun" diabadikan menjadi nama masjid Patok Negara tersebut dengan nama Masjid Ad-Darojat. Meski bentuk masjid mengalami perubahan, namun bentuk khas sebagai masjid kraton masih tetap dipertahankan. Seperti pada masjid Pathok Negoro lainnya, di sisi barat masjid adalah pemakaman tempat bersemayam para tokoh agama maupun masyarakat setempat.

    Karena latar belakang sejarah demikian ini, antara warga Babadan dengan Babadan Baru Kentungan meskipun terpisah secara geografis namun tetap terjalin hubungan yang harmonis. Setiap tahun menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, banyak warga Babadan Baru yang datang ke Babadan untuk menggelar acara tradisi nyadran. Silaturahmi setiap kegiatan nyadran tersebut berlanjut saat Lebaran Idul Fitri tiba, karena banyak juga diantara mereka yang masih merupakan saudara sedarah.
    Tata Arsitektur

    Pertama kali masjid ini dibangun pada tahun 1774, arsitektur Masjid Ad-Darojat sama persis dengan ketiga masjid Patok Negara lainnya. Kesamaan bentuk masjid tersebut terlihat hampir di semua bagian. Bangunan ruang utama masjid menggunakan konstruksi joglo dengan empat soko guru dan terdapat pawestren disampingnya. Serambi masjid menggunakan konstruksi bentuk limasan serta terdapat kolam di sebelah timur masjid sebagai tempat bersuci sebelum memasuki masjid, di depan masjid juga terdapat pohon kepel.

    Dikarenakan pengusiran oleh Jepang pada tahun 1940-an, bersamaan dengan boyongnya penduduk Babadan ke Kentungan, seluruh bangunan masjid ikut dipindah dan dibangun kembali di daerah Kentungan. Tempat tersebut kemudian diberi nama Kampung Babadan Baru. Baru pada tahun 1960-an bekas lokasi masjid di Babadan kembali dibangun .

    Pada pembangunan awal di tahun 1964, bentuk masjid masih semi permanen. Baru pada tahun 1988 dibangun kembali serambi tengah dengan sumber dana dari pemerintah dan swadaya masyarakat. Meski bentuk masjid mengalami perubahan, namun ciri khas sebagai Masjid Pathok Negara tetap dipertahankan, seperti mustoko masjid yang masih disimpan dengan baik. Baru pada tahun 1992 bangunan induk utama dibongkar kembali dan disarankan agar disesuaikan seperti bentuk semula yakni joglo yang berasal dari kayu jati.

    Pada tahun 1993 akhirnya pembangunan ruang utama masjid berhasil dilakukan dengan membangun joglo dengan 4 soko guru masing-masing setinggi 7 meter. Pembangunan kelengkapan masjid seperti serambi depan, gerbang masuk, serta tempat wudhu dan wc dilakukan pada tahun 2001. Atas kesepakatan para tokoh agama setempat pada tahun 2003, mustoko yang asli yang terbuat dari tanah liat tidak jadi dipasang dan diganti dengan mustoko dari kuningan. Meskipun demikian mustoko yang asli sampai sekarang masih tersimpan dengan baik di Masjid Ad-Darojat.

    Melalui peranan masjid ini, masyarakat Babadan begitu lekat dengan ajaran-ajaran Islam. Di tengah-tengah masyarakat pada akhirnya memang muncul beragam pandangan. Namun keragaman ini dapat disikapi denan bijak oleh warga masyarakat Babadan. Toleransi di kampung santri Babadan sungguh dapat menjadi teladan dalam kehidupan beragama di masyarakat. Terlebih dalam menyikapi adanya perbedaan pandangan di kalangan masyarakat, perbedaan pandangan di kalangan umat Islam dalam menjalani syariat, tidak berlkaku bagi masyarakt perkampungan santri Babadan. Rasa toleransi ini telah terjalin sejak lama terutama dalm menghadapi bulan Ramadhan yakni pada pelaksanaan sholat tarawih. Fanatisme perbedaan faham antara NU dan Muhammadiyah dapat diantisipasi dengan baik oleh masyarakat Babadan.
    Baca Selengkapnya - Masjid Pathok Negara Ad-Darojat Babadan Read more...

    Masjid Pathok Negara Mlangi

    KWARTETWO.COM: Masjid Mlangi berdiri di atas sebidang tanah Kasultanan seluas 1.000 meter persegi, yang terdiri atas bagian ruang utama 20 x 20 meter persegi, serambi masjid 12 x 20 meter persegi, ruang perpustakaan 7 x7 meter persegi, dan halaman seluas 500 meter persegi.

    Memasuki gapura halaman masjid, terdapat beberapa tangga menurun. Dengan begitu dilihat dari tinggi tanah pada umumnya, lokasi masjid ini lebih rendah dibanding tanah sekitarnya. Sisi kiri dan halaman masjid terdapat tembok beteng mengelilingi masjid. Di halaman bagian utara terdapat bangunan ruang pertemuan. Namun bangunan ini dibuat pada masa belakangan seiring dengan tuntutan kebutuhan masyarakat.

    Di sisi barat, utara dan timur laut terdapat makam. Mereka yang dimakamkan di sana adalah keluarga keraton. Di sisi barat dimakamkan Pangeran Bei. Di utara masjid terdapat makam Pangeran Sedo Kedaton, yaitu Patih Danurejan pada masa Hamengkubuwono II. Di sisi timur adalah makam keluarga Pangeran. Prabuningrat.

    Arsitektur masjid Mlangi pada asalnya sama dengan masjid keraton yang lain. Bentuknya seperti Masjid Pathok Nagari Plosokuning. Bangunannya mengikuti gaya arsitektur Jawa dengan penyangga-penyangga kayu. Konon pada masa dulu, soko masjid ini berjumlah 16 buah termasuk empat soko utama di ruang utama masjid. Di sisi masjid dibangun pawestren, tempat khusus untuk sholat kaum putri. Di bagian depan, sisi depan, kanan dan kiri masjid terdapat blumbang sebagai tempat membersihkan kaki jamaah sebelum memasuki masjid.

    Sayangnya, bentuk bangunan ini sudah banyak mengalami perubahan. Blumbang yang dulu mengelilingi masjid, sekarang sudah tidak ada lagi. Pada waktu itu, air blumbang diambil dari bendungan Mlangi di wilayah timur. Namun pada perkembangan selanjutnya, jika air dialirkan untuk mengairi blumbang masjid, sawah-sawah di sekitarnya menjadi kering. Akhirnya, blumbang ini ditutup supaya tidak mengganggu kepentingan irigasi sawah.

    Hal ini terjadi bersamaan dengan renovasi yang dilakukan tahun 1985. Panitia pembangunan, pada saat itu sowan dulu ke Kraton meminta izin untuk renovasi. Keraton memberikan izin dengan syarat tidak mengubah bentuk aslinya. Namun karena tuntutan untuk memperluas bangunan, masjid Mlangi kemudian ditingkat. Konstruksi bangunannya pun diganti dengan pilar-pilar beton. Sekalipun demikian, bentuk masjid aslinya dipertahankan dengan dinaikkan di lantai atas. Di sisi depan sebelah utara ditambah menara setinggi 20m ; sesuatu yang tidak lazim dalam arsitektur masjid Kasultanan.

    Hanya beberapa bagian masjid yang masih terjaga kasliannya. Diantaranya adalah mustoko masjid. Bentuk mustoko ini konon sama dengan mustoko masjid Demak. Di sisi kanan kiri terdapat bunga-bunga melati berjumlah 17 buah. Di bagian atas terdapat sebuah godho dengan posisi berdiri.

    Mimbar yang ada di masjid ini juga termasuk yang masih asli. Di sisi depan ada tangga bertingkat. Di bagian luarnya diberi kain mori putih, seperti mimbar-mimbar di masjid kerajaan Mataram tempo dulu. Beduknya juga memper- tahankan replika aslinya. Sekalipun tidak menggunakan kayu yang utuh, diameter beduk ini sama dengan ukuran bedug yang asli, yakni 165 cm.

    Pada zaman dulu, pengelolaan masjid ini langsung di bawah kerajaan Ngayogyokarto. Dalam perkembangannya, kepengurusan masjid ini pada tahun 1955 oleh Kasultanan resmi diserahkan masyarakat Mlangi. Hal ini berlangsung pada masa pemerintahan Hamengkubuwono IX. Pada tahun itu, masjid Kasultanan Mlangi diserahkan kepada masyarakat diwakili KH Zainudin dan KH. Masduki. Sejak itulah masjid yang dulunya bernama Masjid Kasultanan Mlangi berubah nama menjadi Masjid Jami' Mlangi.

    Sekalipun demikian, hubungan dengan keraton tetap terjaga. Takmir masjid Mlangi ini dulu diberi bengkok (sawah) oleh keraton. Di lokasi masjid juga terdapat abdidalem keraton. Abdidalem yang ada di sana ada dua yaitu abdidalem pamethakan, dan abdidalem surakso. Yang disebut terakhir ini adalah abdidalem yang berperan sebagai juru kunci pesarean. Pada bulan maulud, para abdidalem dikumpulkan dan dilakukan pasowanan ke keraton.

    Semenjak masjid ini diserahkan ke masyarakat, pengelolaan masjid semakin longgar sekalipun tetap berkordinasi dengan keraton. Semenjak diserahkan kepada masyarakat, telah dilakukan pemugaran beberapa kali. Diantaranya pemugaran tahun 1970 dan tahun 1985. Setelah itu juga dilaklukan pemugaran secara berkala sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat.

    Sekalipun demikian, pesona masjid ini tetap memikat banyak orang untuk datang baik yang bertujuan untuk sholat maupun berziarah. Hal ini terbukti setiap diadakan khaul, mereka yang hadir umumnya telah berulang kali datang.

    Diserahkannya pengelolaan masjid ke masyarakat memang bisa dipahami. Di wilayah Mlangi terdapat sembilan pondok pesantren yang dipimpin oleh para kyai yang merupakan keturunan K. H. Nur Iman. Tidak kurang dari 1.000 santri yang belajar di pondok-pondok tersebut. Para santri datang ke Masjid pada saat-saat sholat jama'ah dan jum'atan. Sedangkan kuliah dilaksanakan di pondok masing-masing. Pondok-pondok tersebut adalah PP al-Huda, dipimpin KH Muhtar Dawam, PP. as-Salafiyah dipimpin KH Sujangi, PP al-Miftah dipimpin KH Munahar, PP an-Nasat dipimpin KH Samingun, PP al-Ikhlas dipimpin KH Bahaudin, PP Hidayatul Mubtadi'in dipimpin KH Nur Iman Mukim, PP al-Falahiyah dipimpin Ny. Hj Rubaiyah, PP as-Salimiyah dipimpin KH Salimi, dan PP al-Furqon dipimpin KH Imanuddin.

    Pola kepemimpinan Kyai selalu direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari dengan slogan âœtahu amal dan tahu ilmuâ€, artinya sukses dunia akherat. Cerminan seperti itu masih terlihat sampai sekarang sehingga di dusun Mlangi sulit dicari orang yang malas bekerja apalagi malas beribadah khususnya sholat.

    Kehidupan beragama di sana juga membanggakan, sehingga gangguan-gangguan dari luar seperti pencuri dapat dikatakan tidak ada. Berdasarkan cerita dari warga barang yang hilang sering kembali sendiri. Untuk memberi bimbingan keagamaan dan meningkatkan ketaqwaan setiap ba'dal subuh dan ba'dal maghrib diadakan ceramah oleh kyai-kyai pimpinan pondok pesantren seluruh Mlangi secara bergiliran. Ketua ta'mir masjid pada saat ini dipercayakan kepada K. H. Muhtar Dawam dan di dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh kyai-kyai yang lain.

    Kegiatan Masjid Jami' Mlangi selama Bulan Ramadhan adalah dengan dilaksanakannya Madrasah Diniyah dengan santri yang mayoritas berasal dari lain wilayah. Daerah ini juga dikenal dengan budaya mercon khususnya pada saat bulan Romadhon. Budaya ini diyakini oleh masyarakat Mlangi sebagai sarana minta maaf. Unine mercon kanggo sarono njaluk ngapuro (suara mercon sebagai sarana untuk meminta maaf). Semakin keras suara mercon dan jumlahnya banyak maka dosa yang diampuni juga semakin banyak. Kebiasaan ini memang telah berlangsung sejak dulu, hingga kini masih berlanjut. Namun semakin hari, mengingat resiko bahaya yang mungkin ditimbulkan, budaya ini sudah sedikit berkurang.

    Di Mlangi juga dikenal tradisi jenang manggul. Tradisi ini bermula sejak Hamnegkubuwono I, saat memberikan tanah perdikan Mlangi. Pada saat Kyai Nur Iman hendak mendirikan pesantren, Hamengkubuwono I saat peletakan batu pertama dilakukan tradisi jenang manggul. Artinya sageto manggul ayahan dan ipun kyai Nur Iman dalam hajatnya menyebarkan ajaran Islam.

    Nama Kyai Haji Nur Iman telah membawa nuansa Islami bagi masyarakat luas. Makamnya pun sampai sekarang banyak diziarahi orang. Hal itu terbukti bahwa hampir 200 orang per hari, hadir tamu dari luar daerah yang bermaksud mengunjungi masjid sekaligus ziarah ke Makam Kyai. Bahkan pada hari-hari tertentu pengunjung mencapai 500 orang. Umat Islam yang telah berkunjung biasanya bercerita kepada orang lain dari cerita tersebut juga ditindaklanjuti untuk ikut berkunjung. Semua ini tentu membawa berkah, tidak saja bagi yang berkunjung tapi juga bagi masyarakat sekitar.
    Baca Selengkapnya - Masjid Pathok Negara Mlangi Read more...

    Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

    KWARTETWO.COM: Masjid Pathok Negara ini terletak cukup jauh dari keramaian kota, tepatnya bersebelahan dengan tempuran antara sungai Opak dan Oya. Masjid Taqwa berdiri di atas tanah putih seluas 5000m2. Luas bangunan masjid ini saat didirikan adalah 420 m2 dan hingga kini telah dilakukan pengembangan sehingga luasnya menjadi 750m2. Bagian serambi luasnya 250 m2, dan ruang perpustakaan seluas 90 m2, dan halaman seluas 4000 m2

    Sejarah berdirinya masjid Taqwa bermula dari seorang tokoh yang bernama Kyai Mohammad Fakih. Beliau adalah seorang guru agama Islam. Dia bertempat tinggal di desa Ketonggo. Selain itu, ia senang membuat 'Welit' (atap rumbia) tapi terbuat dari daun ilalang bukan dari daun tebu. Karena hasil kerjanya itu ia dikenal dengan sebutan "Kyai Welit". Welit-welitnya tidak terjual, hanya kalau ada orang membutuhkan diberikan begitu saja.

    Pada suatu ketika Sultan Hamengkubuwono I hendak menemui Kyai Moh Fakih. Setelah bertemu, Sultan Hamengkubuwono I mengutarakan kehendaknya untuk menuntut ilmu atau "ngangsu kaweruh". Namun Kyai Moh. Fakih merasa keberatan, karena pada prinsipnya beliau memberikan ilmu hanya kepada murid-muridnya. Maka setelah itu, Sultan Hamengkubuwono I menyamar sebagai utusan Sultan. Penyamarannya ini tidak diketahui oleh Kyai Moh. Fakih. Karena niatnya yang sungguh-sungguh agar diterima sebagai murid, maka permintaan itupun dikabulkannya. Pada saat itu Sultan meminta nasehat kepada Kyai Moh. Fakih tentang bagaimana negara menjadi aman. Kyai Moh. Fakih menasehatkan, pertama, agar Sultan melantik orang-orang yang dapat mengajar dan menuntun akhlak dan budi pekerti yang disebut "Pathok".

    Pathok-pathok ini dikemudian hari karena jabatannya itu kemudian dianugerahi tanah perdikan (tanah bebas pajak). Kedua, Sultan harus memilih "Kenthol" (kepala pedesaan/desa) yang karena tugasnya ia diberi tanah pelungguh.

    Saran tersebut disetujui oleh Sultan Hamengkubuwono I. Pathok-pathok tersebut ditempatkan di desa Mlangi, Plosokuning, Babadan Gedong Kuning, Ringinsari Genthan, Demak Ijo, Klegum, Godean dan Jumeneng. Akhirnya Sultan memohon kepada Kyai Moh. Fakih agar sudi bersembahyang Jum'at di masjid Besar Yogyakarta, di hari Jum'at Kliwon. Selain itu Sultan mengutus utusan ke Laweyan Surakarta, memohon kepada Ki Derpoyudo agar bersedia bersembahyang pula di Masjid Besar Yogyakarta di hari jum'at Kliwon, sebab setelah selesai sholat Jum'at Sultan akan mengadakan sarasehan.

    Sarasehan yang di lakukan setelah sholat Jum'at itu antara lain diikuti oleh Sultan Hamengkubuwono I, Kyai Moh. Fakih dan Ki Derpoyudo yang intinya membicarakan bagaimana agar negara bisa menjadi aman tentram. Pada saat itu Ki Derpoyudo memberikan keterangan kepada Sultan Hamengkubuwono I bahwa, Kyai Moh. Fakih itu adalah putra menantu dari anaknya yang sulung. Dengan kata lain, Kyai Moh Fakih adalah kakak ipar Sultan Hamengkubuwono I, sebab Sultan adalah menantu Ki Derpoyudo dari putrinya yang kedua.

    Sejak peristiwa itu, Sultan sangat cinta dan asih kepada Kyai Moh. Fakih, karena di samping kakak iparnya, ia juga sebagai gurunya, sehingga ia sering dipanggil "Ngabiyantoro" (menghadap ke Kraton). Pada tahun 1702-1775 M Sultan Hamengkubuwono I berniat menunaikan ibadah haji. Karena keadaan belum begitu aman, beliau mengutus Kyai Moh. Fakih ke Mekah untuk menghajikan Sultan. Kyai Moh. Fakih bermukim selama dua tahun di Mekah, sebab di tahun pertama ia menunaikan ibadah haji untuk dirinya sendiri, dan di tahun ke dua ia menunaikan ibadah haji untuk Sultan.

    Pada tahun 1701 1774 M dengan candra sengkala "Nyata Luhur Pendhita Ratu" Kyai Moh. Fakih dilantik menjadi kepala Pathok, dan dianugerahi tanah perdikan di sebelah selatan Ketonggo, yang masih berupa hutan. Karena hutan tersebut banyak ditumbuhi pohon awar-awar, maka disebut "alas awar-awar". Tanah anugrah Sultan yang masih berwujud hutan awar-awar itu kemudian dibuka dan kemudian didirikan sebuah masjid kecil.

    Setelah selesai, Kyai Moh. Fakih ngabiyantoro (menghadap) kepada Sultan untuk menyampaikan laporan bahwa di atas tanah perdikan itu sudah didirikan sebuah masjid. Atas amanat (kehendak) Sultan Hamengkubuwono maka hutan awar-awar yang sudah di buka dan sudah didirikan masjid itu diberi nama "WA ANA KAROMA" yang maksudnya "Supaya benar-benar Mulya" atau "Agar Mulya Sungguh-sungguh". Pengangkatan Kyai Moh. Fakih menjadi Kepala Phathok Negara itu hanyalah karena semata cinta dan asihnya dan jasa Kyai Moh. Fakih yang sangat besar terhadap negara.

    Kyai Muhammad Fakih ini juga disebut juga Kyai Sedo Laut (meninggal di laut) karena sepulang dari tanah suci pada tahun 1757, kapal yang ditumpanginya karam di selat Malaka. Kyai Muhammad Fakih karam di laut, sedang putranya KH Abdullah terdampar di selat Malaka.
    Arsitektur Masjid

    Arsitektur bangunan induk masjid Taqwa berbentuk kerucut (lancip) dengan mustaka dari kuwali yang terbuat dari tanah liat. Sedang bangunan serambi berbentuk limasan dengan satu pintu di depan. Semua bahan bangunannya dari bambu, atapnya terbuat dari welit, dan dindingnya dari gedhek. Begitu gambaran bentuk masjid ini di masa lampau.

    Tempat wudhu terbuat dari padasan, yang ditempatkan di halaman masjid di sebelah utara dan selatan. Ada dua sumur dan ada dua pohon randu untuk tempat senggot menimba air. Bentuk bangunan serta bahan bangunan tak pernah berubah dalam kurun waktu yang sangat lama, sampai pada tahun 1867 M pada periode Kyai Muhammad Fakih II, baik atap bangunan maupun tembok ada sedikit perubahan. Atap bangunan diganti genteng dari tanah liat, tembok disusun dari batu bata yang direkatkan dengan tanah liat, lantai dibuat dari komposisi aci dari gamping dan tumbukan bata merah dan pasir.

    Pada tahun 1913 M, bangunan masjid dirombak total, kerangka bangunan dari bambu diganti dengan kayu nangka. Tembok diplester (ditembok) dengan komposisi pasir dan acian kapur dengan tumbukan bata merah. Demikian juga lantainya diganti dengan komposisi bahannya seperti komposisi bahan untuk tembok.

    Pada awal berdirinya, bentuk masjid masih sangat sederhana dan apa adanya. Serambi masjid berbentuk limasan, sedang bangunan masjid berbentuk kerucut. Bentuk bangunan ini bertahan sampai tahun 1867 M. Pada tahun ini, oleh Kyai Muhammad Fakih II bentuk bangunan masjid dibongkar diganti dengan bentuk atap tumpang. Sedang bangunan serambi tetap berbentuk limasan. Di puncak atap tumpang, mustoko yang dulu hanya dari kuwali yang dibuat dari tanah liat kemudian diganti dengan bentuk bawangan yang dibuat dari kayu nangka.

    Tidak hanya bentuk bangunannya yang diubah oleh Kyai Muhammad Fakih II. Kerangka yang semula bambu sebagian besar diganti dengan kayu nangka dan sebagian dengan gelugu. Tembok yang semula hanya dari gedhek (anyaman bambu) diganti dengan batu bata yang direkatkan dengan tanah liat yang diplester dengan adukan aci gamping dengan tumbukan bata dan pasir. Demikian juga lantainya dibuat dari bata yang ditata lalu diplester dengan adonan seperti membuat tembok.

    Oleh Kyai Muhammad Fakih II, ruangan di dalam masjid ditambah. Di sisi kiri dan kanan bangunan masjid atau sebelah utara dan selatan ruangan masjid dibuat ruangan untuk jamaah sholat bagi kaum putri yang disebut pawestren. Tempat wudhu yang semula dari padasan, kemudian dibuatkan kolam di depan serambi masjid. Air dialirkan dari sungai Belik.

    Pada tahun 1958, bangunan masjid kembali dibongkar. Bentuk bangunan masjid dengan bentuk atap tumpang tetap dipertahankan, malah ditambah dengan gulu melet sebagai penyela antara atap tumpang sebelah atas dan atap tumpang sebelah bawah.

    Bangunan serambi masjid diperluas. Kolam di tempat wudhu diurug (ditimbun) tanah dijadikan halaman masjid. Tempat wudhu dibuat kulah yang berada di sisi utara dan selatan serambi masjid. Pawestren tempat jamaah sholat untuk kaum putri tetap dipertahankan. Bangunan masjid diganti tembok yang disemen. Empat tiang utama di dalam masjid menjadi terlihat jelas. Tempat khotib dibuatkan rumah-rumahan semacam gazebo ukuran 2 x2 m. Di bagian serambi ada beberapa tiang dari cor beton dan di dalam serambi tiang dibuat dari balok kayu jati. Di depan serambi masjid dibuat kanopi (kuncungan).

    Lantai ruangan masjid maupun serambi diganti dengan tegel. Di dalam ruangan masjid, tegel dibuat warna warni dengan corak ornamen kembang-kembang. Pembangunan masjid ini atas biaya dan dana dari H. Prawiro Suwarno atau Tembong dari Kotagede.

    Tahun 1976 M, mustoko dalam bentuk bawangan yang dibuat dari kayu nangka, diganti dengan mustoko dalam bentuk bawangan yang dibuat dari aluminium dengan ukuran yang lebih besar.

    Pada tahun 1986 M, masjid mendapat bantuan dari Presiden RI sejumlah Rp. 25.000.000,- Karena kondisi masjid sudah banyak yang rusak, utamanya kayu penyangga yang lapuk karena terkena tetesan air hujan, maka bangunan masjid atas izin tertulis dari Keraton, atau istilahnya dapat palilah dalem, bangunan masjid dibongkar dan diperluas. Bantuan ini langsung diambil kepada Zahid Husain oleh Kyai Makmun, dengan didherekke Moh. Da'in Santoso, Drs. Munawir dan Moh Wasul Baii.

    Secara total, masjid dibangun dengan konstruksi beton bertulang, dengan rancangan gambar yang dibuat dan dirancang oleh insinyur bangunan, dengan tidak meninggalkan arsitektur masjid corak Jawa Yogyakarta. Hal ini juga memenuhi dhawuh dalem agar jangan meninggalkan corak kejawennya, yang tertuang dalam surat palilah dalem. Termasuk dalam pemilihan warna catnya antara komposisi hijau, kuning dan merah serta kuning emas (prodo) karena warna-warna ini mengandung nilai filosofis yang dalam. Ada catatan menarik, pada saat itu masyarakat ingin membuat menara dari konstruksi beton. Tapi rencana itu tidak terealisir karena keraton tidak mengizinkan karena corak masjid Yogyakarta tidak ada menaranya.

    Pada tahun 2003 M, masjid ini mendapat bantuan pengembangan dari Dinas Pariwisata Yogyakarta. Kemudian dbangun gedung pertemuan yang terletak di utara serambi masjid. Kulah dibikin simetris antara kulah di sebelah utara serambi masjid dan di sebelah selatan serambi masjid. Ada penambahan bangunan kanopi (kuncungan) dan dihidupkannya kolam di depan di sisi kiri dan kanan serambi masjid. Juga penyempurnaan dapur untuk memasak air pada saat dilaksanakan hari-hari besar Islam di masjid taqwa.
    Nama Masjid Taqwa

    Sejak masjid ini didirikan oleh Kyai Muhammad Fakih, masjid ini tidak ada namanya. Saat itu, masyarakat mengenalnya dengan sebutan masjid Wonokromo. Pada saat kepengurusan masjid dipegang oleh Kyai Makmun, masjid diberi nama Masjid Taqwa, bukan Masjid at-Taqwa.

    Ada argumen yang diberikan Kyai Makmun kenapa masjid ini diberi nama masjid Taqwa dan bukan Masjis at-Taqwa. Kata taqwa adalah bentuk isim nakiroh, yang mengandung pengertian umum untuk siapa saja. Siapa saja dari tingkatan kyai sampai dengan tingkat orang awam sekalipun boleh beribadah di masjid ini, tak ada bedanya dengan siapa pun. Termasuk yang boleh masuk ke masjid ini tidak hanya warga Wonokromo, tapi juga warga lainnya. Lain dengan kata at-Taqwa dalam bentuk isim ma'rifah, yang mengandung pengertian khusus, bahwa yang boleh masuk masjid hanya para kyai saja. Atau masjid ini hanya khusus untuk warga Wonokromo saja.

    Pemberian nama ini dilakukan secara resmi dengan membuka selubung papan nama yang lakukan oleh Kyi Makmun, selubung papan nama Masjid Taqwa pada saat itu digantung di kanopi (kuncungan) di serambi masjid.
    Kelengkapan Masjid

    Pada zaman dulu, di depan masjid dibangun tempat wudhu. Airnya diambil dari sungai Belik yang dialirkan melalui parit. Fungsi kolam selain untuk berwudhu juga berfungsi unuk menghukum orang yang salah dalam memukul kenthongan dan bedhuk, dengan diceburkan di dalam kolam.

    Untuk tanda waktu masuk sholat, selain adzan, dibuat kenthongan dan bedhuk. Suara dan irama bedhuk di hari-hari biasa lain dengan saat tanda masuk sholat 'ashar di hari Kamis. Suara irama bedhuk disebut dengan sarwo lemah, 'asar dowo malem jemuah. Kalau saat masuknya waktu 'ashar di hari Kamis, bedhuk itu dipukul dengan nada dan irama yang khas dan panjang (dowo). Maka apabila suara bedhuk dipukul panjang menandakan bahwa nanti malam adalah malam Jum'ah. Apalagi saat-saat menjelang pelaksanaan sholat Jum'ah, setengah jam sebelumnya bedhuk ditabuh bertalu-talu. Di akhir pemukulan bedhuk disela-selai pemukulan kenthongan. Ini menandakan bahwa pelaksanaan ibadah Jum'ah sudah akan dimulai.

    Tahun 1973 M, seorang warga Wonokromo, Muhammad Asnawi Muslikh, menyumbangkan seperangkat alat pengeras suara yang digerakkan dengan accu 12 volt untuk mengumandangkan adzan. Maka pada tahun inilah ada tonggak sejarah masjid adzan dikumandangkan dengan pengeras suara.Pada saat itu, peristiwa ini menjadi sangat surprise, karena saat itu inilah satu-satunya masjid kidul negoro sing nganggo pengeras.
    Peran Masjid Taqwa dari Waktu ke Waktu

    Pada zaman penjajahan Belanda, masjid ini untuk jama'ah sembahyang Jum'at bagi penduduk Wonokromo dan dari desa-desa sekitarnya, karena masjid merupakan masjid tertua di wilayah Kecamatan Pleret dan sekitarnya. Masjid ini juga dikelilingi pondok-pondok pesantren, yang santrinya berasal dari berbagai daerah antara lain seperti dari Cirebon. Bahkan ada yang berasal dari Singapura. Daerah ini dahulu merupakan kota kecil di pedesaan dan sangat ramai dikunjungi orang untuk mendapatkan pelajaran agama, bahkan sampai sekarang masih merupakan pusat-pusat pengajian.

    Di masa revolusi fisik, masjid Wonokromo disamping untuk sholat jama'ah para gerilyawan RI juga sebagai tempat koordinasi untuk menggempur Belanda yang berkedudukan di Pleret. Daerah ini merupakan basis kekuatan militer dan pejuang serta kekuatan masyarakat dalam ketahanan berjuang melawan Belanda yang bermarkas di Pleret maupun di Bantul, serta penjaga kekuatan Belanda dari Kota Kraton.

    Secara khusus, masjid ini juga menjadi tempat kekuatan militer Compi III Batalion I Brigade 10 yang saat itu dipimpin Letda Komarudin. Di makam yang terlatak di sebelah barat masjid juga terdapat beberapa orang pahlawan yang disemayamkan di sana dan hingga sekarang selalu diziarahi banyak orang pada bulan Agustus untuk mengenang jasa-jasanya.

    Pada zaman pembangunan, serambi Masjid Taqwa Wonokromo digunakan untuk pengajian-pengajian dalam mempersiapkan mental Ketaqwaan kepada Allah SWT, memperdalam taukhid, keimanan dan keislaman serta akhlak yang diarahkan untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Adapun pesertanya meliputi banyak orang antara lain : dari wilayah Kecamatan Pleret, Piyungan, Banguntapan dan Jetis, bahkan ada yang dari wilayah Kecamatan Bambanglipuro dan Dlingo.
    Upaya Pemakmuran Masjid

    Pada awal berdirinya, belum dikenal istilah takmir masjid untuk mereka yang mengurusi kemasjidan. Urusan masjid mutlak berada di tangan otoritas Kyai, baik untuk urusan fisik masjid maupun urusan peribadatannya. Hal ini berjalan sampai tahun 1913 M, sebab pada tahun 1913 M, bagi orang-orang yang mengurus segala urusan masjid baik fisik maupun peribadatan disebut dengan istilah khodimul ummah.

    Selain itu, sudah ada pengorganisasian tentang perangkat masjid. Misalnya khotib disebut abdidalem kaji selosin. Muadzin disebut abdidalem muadzin. Masing-masing muadzin sudah memiliki tugas masing-masing. Yang istimewa, pada saat sholat Jum'at, pelaksanaan adzan dilakukan dua kali. Adzan pertama dilakukan sebagai tanda saat masuknya waktu sholat dhuhur (masuk waktu sholat Jum'at). Pada saat adzan pertama, baik petugas untuk adzan subuh, dzuhur, 'asar, maghrib, isya' berjajar-jajar di depan mimbar, mengumandangkan adzan bersama-sama.

    Hal ini dimaksudkan supaya ada keadilan, bersatu dan bertemunya para muadzin dari masing-masing waktu, maka di sini dikenal dengan istilah adzan limo. Adapun orang-orang yang mengurus urusan fisik masjid dari menyapu lantai hingga menggelar tikar untuk sholat dan mengisi air wudhu disebut dengan abdidalem merbot. Semua yang mengurus fisik masjid ini mendapat Surat Keputusan (SK) dari Kraton Ngayogyokarto yang disebut dengan Serat Kekancingan.

    Organisasi bagi orang-orang yang mengurusi urusan kemasjidan yang disebut khodimul ummah ini berjalan dari tahun 1913 M sampai tahun 1969 M. Pada tahun 1969 M, pola kepengurusan masjid diganti dengan sistem imamah. Segala sesuatu yang menyangkut urusan masjid secara mutlak keputusannya di tangan imam. Pada periode itu imamnya adalah Kyai Makmun. Periode ini berjalan dari tahun 1969 M sampai tahun 1990 M. Makmun meninggal tanggal 2 Mei 1990 M. Sepeninggal Kyai Makmun pola kepengurusan masjid diganti dengan takmir masjid sampai sekarang.

    Kepengurusan masjid Taqwa ini dimulai oleh Kyai Muhammad Fakih (1755 M 1763 M), Kyai Abdullah (1763 1808 M), Kyai Ibrahim (1708 1863 M), Kyai Muhammad Fakih II (1863 1913 M), Kyai Moh Dahlan atau K.R.T. H. Badaruningrat (1913 1953 M), Kyai Dimyati (1953 1969 M), Kyai Makmun (1969 1990 M), Kyai Moh Syifak (1990 1994 M), R. Zaenuri Isma'il (1994 1997 M), Drs. Muhammad Wakhid (1997 2000 M), Kyai Isma'il (2000 2003 M), Kyai Ismail (2003 M 2006 M), dan Kyai Ismail (2006 sekarang [2007]).

    Selain berfungsi untuk kegiatan jamaah sholat lima waktu dan sholat Jum'ah, ada beberapa fungsi masjid Taqwa yang istimewa bagi masyarakat Wonokromo, antara lain untuk kegiatan jamaah sholat tarawih. Kegiatan sholat Idul Fitri dan Idul Adha. Selain itu, masjid ini juga digunakan untuk pengumpulan zakat fitrah dan mal bagi warga masyarakat Wonokromo dan sebagai tempat untuk saling memaafkan setelah puasa sunat Syawal dengan sitilah bodho kupatan.

    Untuk pengumpulan ternak kurban, penyembelihan serta penyalurannya bagi warga Wonokromo dupusatkan di masjid ini. Tiap tanggal 6 dan 7 Syawal diadakan majlis sima'atul qur'an sekaligus dalam upaya menumpulkan balung pisah karena yang disemak atau para hufadz-nya adalah warga keturunan (trah) Wonokromo.

    Masjid ini juga digunakan sebagai tempat untuk memberangkatkan dan menerima kedatangan Jam'ah haji warga Wonokromo. Selain itu juga untuk kegiatan akad nikah bagi warga Wonokromo.
    Baca Selengkapnya - Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo Read more...

    Museum Gunung Api Merapi

    KWARTETWO.COM: Sebuah bangunan moderen berdiri dengan megahnya di lereng selatan Gunung Merapi. Tepatnya, loksinya terletak di Desa Harjobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta, atau sekitar lima kilometer dari kawasan obyek wisata Kaliurang.

    Bangunan tersebut adalah Museum Gunung Api Merapi (MGM) yang diresmikan pada 1 Oktober 2009 lalu oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Purnomo Yusgiantoro.

    Museum yang dibangun di atas tanah seluas 3,5 hektar dengan bangunan induk museum seluas 4.470 meter persegi tersebut diharapkan menjadi aset geo-wisata baru di wilayah propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

    Museum ini juga bermanfaat sebagai wahana edukasi konservasi yang berkelanjutan serta pengembangan ilmu kebencanaan gunungapi, gempabumi, dan bencana alam lainnya. Dengan visi dan harapan itulah Museum Gunung Api Merapi ini diperkenalkan dengan sebutan 'Merapi Jendela Bumi'.

    Layaknya sebuah candi, Museum Gunung Api Merapi juga memiliki undak, kaki, badan, dan kepala. Menurut filosofi Hindu, bagian kepala berbentuk kerucut dianalogikan sebagai gunungapi yang merupakan sumber kehidupan masyarakat sekitarnya.

    Sementara pada dinding lobby dipenuhi dengan relief yang menggambarkan kehidupan gunung api dan manusia. Pada bagian tengah lobby tersaji sebuah maket gunung api berskala besar lengkap dengan uap.

    Sedangakan pada dinding kanan lobby terdapat proses pembuatan museum yang dimulai dari penandatanganan MoU, proses pembangunan, dan akan segera dilengkapi dengan momentum peresmian museum.

    Selain area lobby, Museum Gunungapi Merapi dilengkapi dengan ruangan-ruangan yang mengambil tema Volcano World, On The Merapi Volcano Trail, Manusia dan Gunungapi, Bencana Gempabumi dan Tsunami, Bencana Gerakan Tanah, Diorama, Peralatan Survey, Extra-terrestrial Volcano, Film Show, dan fasilitas penunjang lainnya.

    Rencanaya, museum ini nantinya juga akan kembangkan sebagai tempat wisata yang representatif dengan cara melengkapinya dengan taman, area parkir, dan plasa sebagai sarana dan fasilitas bagi pengunjung museum.
    Baca Selengkapnya - Museum Gunung Api Merapi Read more...

    Museum Benteng Vredeburg

    KWARTETWO.COM: Benteng yang dibangun pada tahun 1765 oleh Pemerintah Belanda ini digunakan untuk menahan serangan dari Kraton Yogyakarta. Dengan parit yang mengelilinginya, benteng yang berbentuk segi empat ini memiliki menara pengawas di ke-empat sudutnya dan kubu yang memungkinkan tentara Belanda untuk berjalan berkeliling sambil berjaga-jaga dan melepaskan tembakan jika diperlukan.

    Pada dasar meriam di kubu bagian selatan, Kraton Yogyakarta dan beberapa bangunan bersejarah lainnya termasuk kepadatan lalulintas di sekitarnya terlihat dengan jelas. Dibangun pada tahun 1765 oleh Belanda, Museum dengan luas kurang lebih 2100 meter persegi  ini mempunyai beberapa koleksi antara lain:
    - Bangunan-bangunan peninggalan Belanda, yang dipugar sesuai bentuk aslinya.
    - Diorama-diorama yang menggambarkan perjuangan sebelum Proklamasi Kemerdekaan sampai dengan masa Orde Baru.
    - Koleksi benda-benda bersejarah, foto-foto, dan lukisan tentang perjuangan nasional dalam merintis, mencapai, mempertahankan, serta mengisi kemerdekaan Indonesia.

    SEJARAH
    Museum Benteng Yogyakarta, semula bernama "Benteng Rustenburg" yang mempunyai arti "Benteng Peristirahatan" , dibangun oleh Belanda pada tahun 1760 di atas tanah Keraton. Berkat izin Sri Sultan Hamengku Buwono I, sekitar tahun 1765 � 1788 bangunan disempurnakan dan selanjutnya diganti namanya menjadi "Benteng Vredeburg" yang mempunyai arti �Benteng Perdamaian�.

    Secara historis bangunan ini sejak berdiri sampai sekarang telah mengalami berbagai perubahan fungsi yaitu pada tahun 1760 - 1830 berfungsi sebagai benteng pertahanan, pada tahun 1830 -1945 berfungsi sebagai markas militer Belanda dan Jepang, dan pada tahun 1945 - 1977 berfungsi sebagai markas militer RI.

    Setelah tahun 1977 pihak Hankam mengembalikan kepada pemerintah. Oleh pemerintah melalui Mendikbud yang saat itu dijabat Bapak Daoed Yoesoep atas persetujuan Sri Sultan Hamengku Buwono IX selaku pemilik, ditetapkan sebagai pusat informasi dan pengembangan budaya nusantara pada tanggal 9 Agustus 1980.

    Pada tanggal 16 April 1985 dipugar menjadi Museum Perjuangan dan dibuka untuk umum pada tahun 1987. Kemudian pada tanggal 23 November 1992 resmi menjadi "Museum Khusus Perjuangan Nasional" dengan nama "Museum Benteng Yogyakarta".

    Bangunan bekas Benteng Vredeburg dipugar dan dilestarikan. Dalam pemugaran pada bentuk luar masih tetap dipertahankan, sedang pada bentuk bagian dalamnya dipugar dan disesuaikan dengan fungsinya yang baru sebagai ruang museum.

    JAM BUKA
    Selasa - Jumat: 08.00 - 16.00 WIB
    Jumat - Sabtu: 08.00 - 17.00 WIB
    ntuk hari Senin dan hari libur nasional, tutup.

    TIKET MASUK
    Dewasa: Rp 750.00
    Anak-anak: Rp 250.00
    Asing: Rp 750.00

    FASILITAS
    - Perpustakaan
    - Ruang Pertunjukan
    - Ruang Seminar, Diskusi, Pelatihan dan Pertemuan
    - Audio Visual & Ruang Belajar Kelompok
    - Hotspot gratis
    - Pemandu
    - Ruang Tamu
    - Mushola
    - Kamar mandi

    KEGIATAN
    Dialog, diskusi, pelatihan dan pertemuan.

    ACARA SPESIAL
    Pameran, pertunjukan, dan festival.

    TIP & TRIK
    Perhatikan barang bawaan Anda dan tetaplah bersama-sama dengan rombongan karena pihak museum tidak menyediakan alat pengeras suara untuk memanggil salah satu rombongan Anda.

    Bila membawa kendaraan bermotor, pastikan Anda meninggalkannya dalam keadaan terkunci karena pihak keamanan dari museum tidak hanya berjaga di lokasi parkir tetapi juga bertugas untuk menjaga kompleks museum.
    Baca Selengkapnya - Museum Benteng Vredeburg Read more...

      © Kwartetwo.com Didirikan Oleh Alan Maulana 2010

    Back to TOP  

    IP